ads

Ngakak, Bikin Sakit Perut, Berwisata Lucu di Raja Ampat

Kejadian ini adalah puncak dari tertawa gila-gilaan karena ulah seekor babi hutan di Raja Ampat. Penasaran? Baca sampai selesai.

Saya mengalaminya ketika melakukan sensus ekonomi di Raja Ampat, sekaligus berwisata setelah menyelesaikan sensus. Banyak pengalaman seru yang saya alami selama berada di Raja Ampat.

Sekarang saya memiliki banyak waktu untuk menulis. Oleh karena itu, saya akan menulis di blog pengalaman selama berada di Raja Ampat.

Kami sedang berada di Distrik Salawati Utara, tepatnya di desa Samate melakukan sensus ekonomi.

Malam hari, kami rapat mengenai jalur terbaik menuju desa Kapatlap (Kapatlap satu distrik dengan desa Samate), menggunakan jalur laut atau darat.

Sudah lama masyarakat Distrik Salawati Utara terkendala mengenai transportasi untuk berpindah dari satu desa ke desa lainnya dalam satu pulau, mereka harus berpindah menggunakan kapal melalui jalur laut, karena hutan belum dibuka untuk akses jalan raya.

Untungnya, jalur darat dari desa Samate menuju Kapatlap di tahun 2016 sudah dibuka dengan membuka jalan melalui hutan.

Perjalanan darat tidak mengambil waktu banyak dibanding perjalanan laut. Perjalanan darat dari desa Samate ke Kapatlap kira-kira 45 menit, sedangkan perjalan laut bisa sampai 6 jam, karena masih menunggu kapal yang datang.

Dengan demikian, kami memutuskan menggunakan jalur darat mengendarai motor.

2 motor kami sewa dari masyarakat setempat. Kami mudah mendapat motor untuk disewa melalui bantuan teman dari rekan satu tim.

Besoknya, kami kemudian mulai melakukan perjalanan darat. Jalur yang kami lalui belum sepenuhnya diaspal, masih berkelikir dan bertanah, akibatnya ban motor kami sempat tertelan kedalam tanah.

Disinilah letak keseruannya, jalanan lumayan menantang, ekstra tenaga dibutuhkan. Satu orang diatas motor, dan lainnya kadang turun untuk mendorong dari belakang.

Dalam waktu 30 menit, dari jauh nampak sebuah pantai yang memukau dengan barisan rumah-rumah yang terhitung puluhan.

Tiba di desa Kapatlap, kami mulai melakukan sensus berdasarkan pemetaan yang sudah dirancang hari sebelumnya. Sensus selesai dilakukan dengan cepat karena jumelah responden tidak banyak.

 

Masyarakat desa Kapatlap kebanyakan berprofesi sebagai nelayan, sebagian lainnya berprofesi sebagai pembuat perahu, dan membuka toko kecil di rumah mereka. Ada juga yang menjual siri.

Terdapat sebuah papan besar penyambut dengan tulisan ‘Welcome to Kapatlap’ apabila menuju Kapatlap menggunakan perahu.

Kami berjalan di atas jembatan untuk menikmati Kapatlap.

Didalam air laut terdapat tanaman Posidonia, menandakan bahwa air laut di Raja Ampat bersih. Banyak ikan berenang kesana kemari dalam tanaman Posidonia. Begitu juga dengan kepiting yang mencuri kesempatan dengan cara bersembunyi di sekitar Posidonia, lalu tiba-tiba mencapit ikan yang lewat.

 Angin laut, burung, dan pemandangan sangat sempurna membuat siapa saja ingin berlama-lama di Kapatlap.
 
2 anak terlihat sedang bermain didekat jembatan, saya berbicara dengan mereka, lalu mengambil foto mereka. Mereka sudah terbiasa melakukan aktifitas seperti yang terlihat dalam foto di bawah ini.

Setelah melakukan sensus di Kapatlap dan menikmati keindahan Kapatlap. Kami mulai mengendarai motor lagi menggunakan jalur yang sama.

Disinilah letak kelucuannya, dalam perjalanan balik, kami menemui 2 hewan. Hewan pertama adalah ular daun, hewan kedua adalah babi hutan.

Ular daun berjalan begitu cepat, tidak berpengaruh pada kami. Babi hutanlah yang berpengaruh, membuat saya tertawa keras.

Ini bukanlah bully kepada rekan, ini reaksi spontan saya terhadap kejadian yang sedang berlangsung.

Salah satu motor yang dikendarai bannya kempes. Beruntung, ada pekerja perusahaan pembuka jalan, maka ban motor bisa diisi angin. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika ditengah hutan tidak ada pekerja? Kami akan membawa motor sambil berjalan melalui jalan yang belum diaspal.

Kedua rekan lebih dulu di depan mengendarai motor. Tiba-tiba muncul sesosok hewan berwarna hitam bertaring besar, ia berlari menyeberangi jalan dengan cepat, hampir menyambar motor rekan saya, akibatnya topi miliknya terjatuh, mereka berhenti sebentar karena kaget, tidak sadar topinya terlempar jauh, lalu mereka melanjutkan perjalanan. 

Saya tertawa keras wkwkwkwk 😅😅😅😅 , dan mengambil topi yang jatuh.

Malam hari ketika berada di Pulau Jefman (Kami beberapa kali melakukan perpindahan pulau). Diwaktu santai, kami bercerita. Ulah babi hutan menjadi perbincangan hangat.

Kejadian di desa Kapatlap semacam trending topik, kami tertawa keras, sampai membuat perut saya sakit 😅😅😅😅 hahahaha.

1st photo credit: Instagram.com

ads