ads

Mengenal Line Item Budgeting

Apa Line Item budgeting itu? 

Sistem anggaran tradisional (Line Item budgeting) adalah penyusunan anggaran didasarkan dari mana dan untuk apa dana tersebut digunakan, dengan kata lain menggunakan orientasi input, bukan output. Dan dalam prakteknya untuk mengukur keberhasilan organisasi dengan menghabiskan atau menyerap anggaran. 
Input yaitu penerimaan dana. 

Tujuan Utama Line Budgeting

Tujuan utama Iine Item budgeting adalah untuk melakukan kontrol keuangan dan sangat berorientasi pada input organisasi. 

Karakteristik Line Item Budgeting 
  1. Bersifat incrementalism, yaitu hanya menambah atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yg sudah ada sblmnya dg data tahun sblmnya sebagai dasar menyesuaikan besarnya penambahan/pengurangan tanpa kajian yg mendalam/kebutuhan yg wajar.
  2. Masalah utama anggaran tradisional adalah tdk memperhatikan konsep value for money (ekonomi, efisiensi dan efektivitas).
  3. Kinerja dinilai berdasarkan habis tidaknya anggaran yg diajukan, bukan pada pertimbangan output yang dihasilkan dari aktivitas yg dilakukan dibandingkan dengan target kinerja yang dikehendaki (outcome).
  4. Cenderung menerima konsep harga pokok pelayanan historis (historic cost of service) tanpa memperhatikan pertanyaan sbb:Penekanan & tujuan utama pendekatan tradisional adalah pada pengawasan dan pertanggungjawaban yg terpusat.

Kelebihan Line Item Budgeting
  1. Sederhana dan mudah dioperasikan karena tidak memerlukan analisis yang rumit.
  2. Lebih mudah dalam melakukan pengawasan.

Kelemahan Line Item Budgeting
  1. Anggaran tradisional bersifat tahunan. Anggaran tersebut tak terlalu pendek, terutama utk proyek modal & mendorong praktik yg tak sehat (KKN).
  2. Lebih berorientasi pada input daripada output, sehingga tidak dapat sebagai alat untuk membuat kebijakan dan pilihan sumber daya, atau memonitor kinerja. Kinerja dievaluasi dalam bentuk apakah  dana telah habis dibelanjakan, bukan apakah tujuan tercapai.
  3. Sekat antar departemen yg kaku membuat tujuan nasional secara keseluruhan sulit dicapai dan berpeluang menimbulkan konflik, overlapping, kesenjangan, & persaingan antar departemen. 
  4. Perhatian terhadap laporan pelaksanaan anggaran penerimaan dan pengeluaran sangat sedikit. 
  5. Diabaikannya pencapaian prestasi realisasi penerimaan dan pengeluaran yang dianggarkan. 
  6. Para penyusun anggaran tidak memiliki alasan rasional dalam menetapkan target penerimaan dan pengeluaran. 

Contoh penerapan:

Sistem penganggaran Iine Item budgeting dilihat dari format susunan dan program Anggaran tahunan yang dipersiapkan, menitik beratkan pada sumber pendapatan (Pendapatan asli daerah yang meliputi pendapatan pajak daerah, retribusi daerah bagian laba BUMD, dan lain-lain) dan pengeluaran (belanja rutin yang meliputi belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan dinas, dan lain-lain).

Contoh penerapan sistem penganggaran Iine Item budgeting tersebut diterapkan oleh semua pemerintah di Indonesia berdasarkan peraturan pemerintah no. 5 tahun 1975 tentang pengurusan pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. 
ads