Mengenal Lima Jenis Rasio Profitabilitas

Rasio ini bertujuan untuk mengukur efektivitas managemen yang mencerminkan imbalan atas hasil investasi melalui kegiatan yang dijalankan perusahaan atau mengukur kinerja perusahaan secara keseluruhan dan efisiensi dalam pengelolaan kewajiban dan modal.

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam kegiatan operasionalnya menjadi fokus utama dalam penilaian prestasi perusahaan (analisis fundamental) karena laba selain merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi penyandang dananya, juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan di masa akan datang.

Berikut adalah 5 jenis rasio profitabilitas:

1. Gross Profit Margin (GPM)

Rasio ini menunjukkan seberapa besar keuntungan kotor yang diperoleh dari penjualan produk.

Gross Profit Margin = Laba Kotor/ Penjualan

Jika perusahaan mempunyai rasio 16,67%, hal itu berarti bahwa dari penjualan sebesar Rp1,00 perusahaan memperoleh laba kotor sebesar Rp0,16.

Selain margin laba kotor, ada baiknya jika kita juga menghitung presentase dari laba usaha, dengan rumus sebagai berikut:

Laba Usaha/Penjualan

Untuk kondisi normal, laba kotor seharusnya bernilai positif karena suatu perusahaan menjual barang di atas harga pokoknya. Namun, dalam beberapa kondisi tertentu GPM bisa saja negatif. Kemungkinan disebabkan oleh faktor berikut ini:
1) Perusahaan baru mulai beroperasi sehingga belum bisa mencapai skala ekonomis yang berdapak terhadap     tingginya biaya tetap pada overhead pabrik.
2) Perusahaan memberikan harga jual murah untuk melakukan penertasi pasar. Hal ini merupakan salah satu     kebijakan managemen dengan meminimalkan harga jual. Dalam masa pengenalan produk (introduction)         sering kali perusahaan memberikan potongan harga untuk merebut pangsa pasar.
3) Terjadi perang harga di pasaran. Hal ini dapat membahayakan perusahaan jika terjadi terus menerus-          menerus karena pada akhirnya perusahaan betul-betul kuat yang bisa bertahan.

2. Net Profit Margin (NPM) atau Return On Sales (ROS)

Rasio ini menunjukkan seberapa besar keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan. Jika profit margin suatu perusahaan lebih rendah dari rata-rata industrinya, hal itu dapat disebabkan oleh harga jual perusahaan yang lebih rendah daripada perusahaan pesaing, atau harga pokok penjualan lebih tinggi daripada harga pokok penjualan perusahaan pesaing, ataupun kedua-duanya.

Net Profit Margin= Laba Bersih/Penjualan Bersih

3. Cash Flow Margin

Cash flow margin adalah presentasi aliran kas dari hasil operasi terhadap penjualannya. Cash flow margin mengukur kemampuan perusahaan untuk mengubah penjualan menjadi aliran kas.

Cash Flow Margin= Arus Kas Hasil Operasi/ Penjualan Bersih

4. Return on Assets (ROA) atau Return On Ivestment (ROI)

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas seluruh aset yang ada. ROA juga bisa berarti menggambarkan efisiensi pada dana yang digunakan dalam perusahaan. Itulah mengapa rasio ini disebut juga Return On Ivestment.

ROA= Laba Bersih/Total Aktiva

Jika perusahaan memiliki rasio 4,88%, ini berarti bahwa perusahaan mampu mengelola setiap aset Rp 1,00 untuk menghasilkan keuntungan sebesar Rp0,05 atau 4,88%. Semakin tinggi ROA artinya perusahaan semakin mampu mempereroleh keuntungan.

5. Return On Equity (ROE)

ROE atau bisa juga disebut Rentabilitas Modal Sendiri digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian dari bisnis atas seluruh modal yang ada. ROE merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh pemegang saham untuk mengukur keberhasilan bisnis yang dijalani.

ROE= Laba Bersih/ Total Ekuitas

Jika perusahaan dengan rasio 16,67%, itu artinya perusahaan mampu mengelola modal sendiri sebesar Rp1,00 untuk menghasilkan keuntungan sebesar Rp0,17 atau 16,67%. (Pat)

Referensi:
Sugiono, Arief. Managemen Keuangan untuk Praktisi Keuangan. Penerbit Grasindo. 
Susilowati, Y., Turyanto, T., 2011. Reaksi Signal Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan. Vol. 3, 17-37.
Foto: Ehow