Inspirasi Bapak Tukang Parkir

Rambut oh rambut di kepala, terima kasih sudah bertumbuh dengan lebat. Saya harus memotongmu empat bulan sekali. 

Pukul 11.30 siang, saya menuju ke barbershop langganan menggunakan motor matik kesayangan. Tiba di depan barbershop tersebut, saya memarkir motor. Bapak tukang parkir memandu saya agar menempatkan motor di posisi yang tepat. 

Sewaktu saya ingin naik ke lantai dua, saya melihat karyawan yang biasa memotong rambut saya sedang menuju ke arah Masjid untuk sholat. 

Tiba-tiba, Bapak tukang parkir berkata kepada saya, masnya mau potong rambut ya?. “Benar Pak,” jawab saya. 

Bapak: “Oh.. Tunggu aja dulu mas disini, tukang potong rambutnya lagi ke Masjid, mau sholat”

Saya: “Baik Pak. Kalau gitu, saya tunggu aja dulu”

Bapak: “Paling dia pergi 15 menit saja”

Saya kemudian duduk di sebelah Bapak itu, karena ada kursi untuk menunggu di lantai 1. Mulailah kami tukar pikiran. 

Saya: “Bapak sudah lama kerja di sini?”

Bapak: “Baru 6 bulan mas, tapi kerja jadi tukang parkir sudah 25 tahun”

Saya: “Wah sudah lama ya Pak, berpengalaman sekali”

Bapak: “Masnya sementara kuliah atau sudah bekerja?”

Saya: “Saya sudah kuliah Pak, sementara mencari pekerjaan, sekaligus mencoba mengajukan beasiswa untuk lanjut S2”

Bapak: “Oh… kuliah S1 dimana?”

Saya: “Di UKDW Pak”

Bapak: “Seorang anak saya, sedang melanjutkan S3nya”

Saya: “Wah… luar biasa Pak, anaknya kuliah S2 dan S3 dimana Pak?” (Saya sontak bersemangat, dari Bapak ini saya bisa mendapat referensi). 

Bapak: “Di Australia dan Jerman, dia didanai oleh perusahaan tempatnya bekerja”

Saya: “Nama perusahaan tempatnya bekerja apa Pak?”


Bapak: “ Perusahaan tempat anak saya bekerja perusahaan minyak *Sensor nama perusahaan.* Dulu diploma 4 (setara S1), anak saya kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Yogyakarta, Setelah lulus diploma 4 (setara S1), dia mencoba melamar pekerjaan di perusahaan tersebut, sehari kemudian setelah mengirim lamaran, hp anak saya berbunyi. Saya yang angkat hpnya, karena dia lagi keluar rumah. Setelah anak saya kembali, perusahaan dan anak saya berkomunikasi, akhirnya anak saya diterima bekerja di sana. Karena anak saya kerjanya bagus dalam perusahaan, maka perusahaan menawarkan S2 ke Australia, pulang dari Australia, anak saya ditawari lagi untuk melanjutkan S3 ke Jerman karena dia bekerja dengan baik di perusahaan. Sekarang sedang melanjutkan S3”

Saya: “Sukses untuk anak Bapak, Bapak juga sehat selalu, terima kasih untuk ceritanya, saya naik ke lantai 2 dulu Pak.” Saya kemudian naik ke lantai 2, karena orang yang memotong rambut saya sudah kembali dari Masjid. 

Setelah saya berbincang dengan Bapak tersebut, terlintas dalam benak saya bahwa untuk melanjutkan S2, selalu ada jalan lain. Salah satunya adalah bekerja di perusahaan besar seperti perusahaan minyak.

Kadang kala, kita akan mendapat informasi yang berguna dari siapapun, tidak peduli dengan latarbelakang orang tersebut. Termasuk dari Bapak dalam tulisan ini.