Kapal Tenggelam di Danau Toba, Asal Jalan, Tidak Memperhatikan Keselamatan? Pengguna Line Today Mengutarakan Pengalamannya

Foto: Dynamicconversations.com dan Line Today

Kapal Motor Sinar Bangun yang membawa wisatawan sekitar 80 orang tenggelam di Danau Toba, kemarin, Senin, 18 Juni 2018.

Tim gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) menginformasikan bahwa tim gabungan baru dapat menyelematkan 3 orang penumpang kapal KM Sinar Bangun, berarti masih terdapat 77 penumpang yang belum ditemukan.

Wartawan Republika, Gumanti Awaliyah bersama rekannya Issha Haruma melaporkan bahwa Kapal KM. Sinar Bangun tenggelam karena cuaca buruk.

Melalui sebuah artikel yang ditulis oleh Margith Juita Damanik, penulis IdnTimes di Line Today berjudul, “Ini 3 Tragedi Kapal Tenggelam di Danau Toba,” mengajak pembaca untuk mengetahui tiga kapal lain yang tenggelam di Danau Toba selain KM Sinar Bangun, yaitu (1) kecelakaan antara sebuah kapal motor dan kapal Ferry Toa Toba tahun 2013, (2) KM peldatari tenggelama tahun 1997, dan (3) Tabrakan kapal boat dan kapal kayu Ajabata tahun 2006.  

Penyebab empat tragedi tenggelamnya kapal disebabkan oleh berbagai hal yang berbeda-beda, seperti, kapal KM Sinar Bangun sendiri disebabkan oleh cuaca buruk, lalu kecelakaan antara sebuah kapal motor dan kapal Ferry Toa Toba tahun 2013, lalu KM Peldatari tenggelam pada tahun 1997 disebabkan karena kelebihan muatan di kapal motor tersebut, serta tabrakan kapal boat dan kapal kayu Ajabata.

Komentar-komentar di Line Today tidak bisa menjadi 100% valid sesuai fakta dan data (Perlu dikaji lebih lagi), namun perlu kita ketahui bahwa komentar yang mendapat balasan komentar yang sependapat dapat kita pertimbangkan karena komentar tersebut adalah pengalaman langsung si penulis komentar.   

Perhatikan screenshot Line Today yang saya crop di bawah ini.

Saya membaca salah satu komentar pengguna Line Today bernama Alan N Nainggolan pada artikel berjudul, “Ini 3 Tragedi Kapal Tenggelam di Danau Toba.” Alan mengungkapkan sisi buruk kapal yang ada di Danau Toba. Alan berkomentar, “Kapal disana ya yang penting jalan aja, mana peduli sama aspek kelayakan, keselamatan, dan kondisi cuaca. Yang penting penuh, berangkat. Yang pernah naik kapal untuk nyebrang ke Samosir atau sebaliknya, silahkan nilai sendiri kondisi kapalnya bagaimana.”

Sependapat dengan Alan, Shinta menuliskan, “Aku nyebrang dari Siantar ke Pasir Putih dengan kapal ini (KM. Sinar Bangun) dan sekarang tenggelam, masih ingat kondisinya bunyi-bunyi, juga waktu itu kapalnya masih kuat, kalau sekarang dia sudah give up kali ya,”

Begitu juga dengan Axella, mengatakan, “Sebenarnya kapalnya juga sudah pada tua-tua, nggak layak lagi beroperasi dah mana penumpang harus penuh dulu baru berangkat,…..”

Dengan demikian, apakah selain cuaca buruk, KM. Sinar Bangun yang tenggelam juga disebabkan oleh kelalaian manusia?

Yup benar demikian, Kapolres Simalungan AKBP Liberty Panjaitan diduga akibat cuaca buruk dan kelebihan muatan, seperti yang dilaporkan oleh Metro TV.

Seharusnya KM. Sinar Bangun tidak lagi menambah penumpang saat mencapai batas maximum penumpang yang dapat dibawa.

Kejadian ini menjadi masukan kepada pemerintah dan pemilik kapal agar selalu mengutamakan keselamatan penumpang dengan memeriksa kondisi kapal selalu dalam kondisi optimal sebab mencegah kapal tenggelam lebih baik daripada kapal tenggelam.

Semoga penumpang yang belum ditemukan dapat ditemukan dalam kondisi yang baik.

Demikian tulisan saya traveler, bagaimana pendapat Anda atas kejadian ini?

Suka menjelajah pantai dan perbukitan, termasuk naik pohon. Menyelesaikan kuliah fakultas Bisnis di Yogyakarta.