Gempa dan Tsunami Palu Donggala adalah Beban Kita Bersama

Foto: Instagram Makassar_iinfo

Kesedihan karena gempa Lombok yang membunuh 564 orang belum sepenuhnya pulih, kesedihan kita bertambah melalui gempa bumi sekaligus tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala.

Gempa 7,4 SR dan tsunami di Palu dan Donggala menyebabkan 1.300 orang meninggal dunia, bencana alam yang terjadi lebih besar dibandingkan dengan bencana alam Lombok yang baru-baru ini terjadi.  

Gempa pada Jumat, 28 September 2018 di Palu dan Donggala terasa hingga ke Kabupaten Toraja Utara dengan jarak 579 Km, gempa terasa kurang lebih 10 detik.

Ketika gempa terjadi, pemuda Gereja GGP Imanuel Rantepao sedang nonton bersama film God’s Not Dead 2.

Saat sedang menonton, tiba-tiba saja kursi tempat saya duduk bergoyang, saya kira digoyang oleh salah satu pemuda, ketahuan ini adalah gempa sehingga kami segera keluar dari dalam Gereja.

Berada di halaman depan Gereja, kabel listrik terlihat bergoyang. Saya dalam posisi berdiri, kepala saya terasa pusing sedikit. Seorang keluarga di Sorong berkomentar, kamu kurang terbiasa dengan gempa bumi,yup, saya juga tidak berharap merasakan gempa setiap tahun.

Ini juga pertama kali, saya merasakan gempa bumi selama berada di Toraja. Berharap, saya tidak pernah lagi merasakannya.

Gempa bumi dan tsunami berdampak besar bagi kehidupan Palu dan Donggala. Kita bisa lihat melalui tayangan di televisi, artikel di situs berita, YouTube, dan sosial media, bagaimana orang-orang menangis dengan kematian keluarga mereka.

Sebuah tayangan di CNN Indonesia menunjukkan bagaimana dua orang remaja, menangis tersedu-sedu mencari keluarganya, seorang remaja tersebut berkata bahwa semua keluarganya berada di bawah puing reruntuhan (Emotion sedih)

Ada juga video yang beredar di Instagram yang menunjukkan bayi perempuan digedong oleh relawan sembari diberikan air putih, mukanya memiliki goresan luka, kemudian seorang bayi laki-laki yang digendong oleh seorang polisi, awalnya keberadaan orang tua bayi itu tidak diketahui, berkat postingan masif warganet di sosial media, sehingga orang tua anak itu bisa kembali memeluk anaknya.

Kisah Anthonius Gunawan Agung yang Heroik dan Mengarukan

Foto: Tribun News

Peristiwa ini juga meninggalkan kisah heroik sekaligus mengharukan. Petugas air traffic control (ATC) Airnav Indonesia, Anthonius Gunawan Agung rela mengorbankan nyamanya demi menyelematkan penumpang dan pesawat Batik Air hingga berhasil terbang lepas landas.

Anthonius Gunawan Agung terus berkomunikasi dengan pilot Batik sampai berhasil lepas landas, barulah ia memikirkan dirinya, ketika turun, lantai 4 tower ambruk. Ia melompat demi menghindari runtuhan tower, ia patah tulang.

Anthonius sempat dilarikan ke rumah sakit yang lebih besar. AirNav mendatangkan helikopter dari Balikpapan, Kalimantan Timur, namun sebelum helikopter  tiba, sayang sekali, nyawanya tidak tertolong lagi, ia meninggal dunia. 

Bantuan untuk Korban Gempa dan Tsunami dari Agen BRILink Toraja 

Foto: WhatsApp Agen BRILink BRI KC Rantepao

Melalui tulisan ini, saya turut merasakan kesedihan saudara-saudara kita di Palu dan Donggala serta daerah sekitar yang terkena dampaknya.

Juga, kami mengirimkan bantuan kepada korban gempa dan tsunami melalui Paguyuban Agen BRILink Toraja, dimana saya adalah salah satu agen BRILink BRI di Toraja.

Terima kasih kepada semua pengurus agen BRILink yang ikut mengambil bagian. 

Semoga bantuan tersebut bisa meringankan beban korban bencana alam tersebut. Tuhan menyertai kita semua, amin.

Suka menjelajah pantai dan perbukitan, termasuk naik pohon. Menyelesaikan kuliah fakultas Bisnis di Yogyakarta.